Jumat, 21 Oktober 2016

Menghidupkan Kembali Ruang Keluarga


Memiliki anak sebagai anugerah penerus generasi dari Sang Maha Pencipta tentu menghadirkan kesenangan dan kebahagiaan tersendiri bagi setiap pasangan manusia di dunia. Bahkan keberadaan anak selalu dikaitkan dengan keutuhan satu hierarki keluarga. Tak seorang pun yang ingin dan berencana untuk memiliki keturunan yang kualitasnya tidak lebih baik apalagi lebih buruk dari kualitas diri dan keluarganya.
Oleh karena itu setiap anak memiliki ruang khusus dalam pemikiran keluarga hingga suatu negara dalam kaitannya sebagai generasi penerus. Tak heran jika kemudian anak dijadikan sandaran harapan akan masa depan yang lebih baik dalam segimental, material maupun spiritual.
Perhatian kepada anak sebagai generasi harapan di masa depan meyentuh sisi pendidikan anak. Beragam cara dan motivasi mulai ditanam dan tumbuh kembangkan kepada anak sedari bayi oleh orangtua, negara, bahkan kehidupan internasional terbukti dengan didirikannya lembaga pendidikan khusus untuk anak mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga badan internasional Unicef.
Tujuan dari lembaga ini tidak lain dari kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam menanamkan nilai baku dalam benak anak sebagai bekal menghadapi masa depan. Uniknya ada perbedaan yang niscaya terjadi dalam nilai baku ini, setiap anak di setiap generasi memiliki tantangan khas tersendiri di jamannya yang mungkin tidak dialami oleh pendidiknya. Tentu saja ini menjadi tantangan serius pendidik dalam mempersiapkan regenerasinya sebagai contoh pola pendidikan anak generasi 90’an tentu saja berbeda dengan generasi millenial dan seterusnya.
Perbedaan tantangan penerapan nilai baku pendidikan anak bersifat dinamis dan eskalatif. Kadang tantangan ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dan sulit diprediksi, sebagai contoh pola pendidikan anak generasi 80’an tidak berbeda jauh dengan pola pendidikan anak generasi 90’an tetapi hal ini terasa jauh perkembangannya dengan pola pendidikan anak generasi millenial.
Sangat sulit bagi orangtua anak generasi 80-90’an untuk mengajak anaknya belajar atau berkumpul bersama keluarga selepas petang menjalin komunikasi interkomunal keluarga. Pada generasi millenial komunikasi interkomunal menjadi lebih mudah dengan teknologi yang memungkinkan terjalinnya pertukaran komunikasi jarak jauh, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan informasi posisi anak disaat dibutuhkan berkomunikasi. Maka tantangannya pun berubah, jika tantangan generasi sebelumnya adalah mensikapi anak pulang malam maka di generasi millenial tantangannya adalah mensikapi anak pulang pagi.
Padahal jika dicermati tidak ada perubahan yang signifikan dalam nilai baku pendidikan anak ini hanya pola pensikapan dan kesiapan pendidik saja. Contoh, jika generasi 80-90’an sangat mudah mengevaluasi anak dikarenakan proses evaluasi berlangsung verbal-visual, siapkah pendidik mengevaluasi anak yang menghindari pola evaluasi verbal-visual dan memilih komunikasi tekstual. Anak sulit diajak videocall karena keterbatasan biaya komunikasi, sementara evaluasi secara verbal dan tekstual jelas sangat samar kecuali bagi beberapa orang yang sudah terbiasa melakukan evaluasi secara verbal dan tekstual. Bagaimanapun bahasa tubuh (gesture) dan intonasi ikut berperan sangat penting dalam mengevaluasi perkembangan sikap anak.
Jika anak berperan sangat penting dalam menentukan masa depan keluarga, lingkungan, negara, hingga dunia. Maka keluarga tidak dapat dinafikan sebagai penanggung jawab pertama dan utama dalam pendidikan anak. Tidak sedikit anak yang rajin, pintar dan cerdas secara akademisi namun kadang kesulitan menjawab beberapa hal penting berkaitan dengan komunikasi interpersonal seperti “Berapa sering anda memeluk orangtua anda dan berapa lama durasinya?”. Sebut saja jika hal ini menjadi sebuah pertanyaan dalam tes kenaikan jenjang karir anak, siapa yang bisa disalahkan?. Tentu saja bukan kesalahan guru karena pertanyannya menunjuk kepada orangtua bukan guru atau anggota keluarga lain juga orang sekitarnya.
Kebiasaan untuk saling menghormati keberadaan dan hirarki, juga menghargai eksistensi anggota keluarga terutama orangtua sangat berpengaruh kepada sikap simpati dan empati anak sehingga anak menjadi lebih jujur dan adil dalam bersikap dan bertanggung jawab. Jika anak sudah bersikap dan bertanggung jawab dengan adil maka masa depannya tentu akan lebih cemerlang dan memperbaiki nilai keluarga dan sosialnya.
Masalah lain dalam penerapan pola pendidikan anak seperti ini adalah kehadiran orangtua bagi anak. Apakah orangtua selalu hadir sebagai orang pertama yang memberikan stimulus dalam memecahkan solusi yang dihadapi anak pada saat itu atau tidak?.
Menginjak kepada dunia modern yang dihadapi generasi millenial kita seringkali dihadapkan pada bentang jarak yang terlalu lebar dalam komunikasi dengan anak. Meskipun secara teknologi sudah disiapkan kemudahan dalam menjalin informasi namun harus disadari bahwasanya terkadang kita sendiri tidak memiliki kesiapan dan keterbatasan dalam menggunakan teknologi tersebut secara maksimal terutama dalam hal pembiayaan, keterbukaan pihak yang menjalin komunikasi dan pemahaman inti komunikasi sehingga sering terjadi gagal paham dalam komunikasi.
Disisi lain ada interaksi yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi seperti penggunaan indera dalam komunikasi. Pelukan orangtua kepada anak dalam banyak penelitian disebutkan mampu meredam konflik bagi anak. Bahkan ciuman di kening anak memberikan stimulus untuk anak merasa lebih percaya diri dan yakin memiliki dukungan penuh dari orangtuanya.
Menyempatkan diri untuk bersama-sama belajar, bercengkerama, dan berfikir menemukan solusi diantara anggota keluarga hingga saat ini sangat diyakini sebagai pola pendidikan anak yang paling efektif dan efisien dari masa ke masa meskipun setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Menghidupkan kembali ruang keluarga tempat setiap anggota keluarga kembali dari setiap aktivitasnya sebelum istirahat di malam hari bukan hal yang sulit dikerjakan. Menyempatkan makan malam bersama, dialog mencari solusi masing-masing anggota keluarga dalam forum ruang keluarga membuat anak menyadari kesulitan yang dialami orangtuanya demikian juga orangtua menjadi lebih mengenali eksistensi anak dan tantangan yang dia hadapi saat ini dan dimasa depan tanpa harus mendikte atau memaksakan solusi yang sudah tidak relevan bagi anak.
Sejenak aku teringat bagaimana Namie anak gadisku ketika ditanya mengapa mengakhiri hubungan dengan pacarnya menjelang valentine day tahun lalu, “Dia tidak pernah menghadiahi orangtuanya bahkan seikat bunga pun setiap tahunnya, bagaimana dia bisa memperlakukan pasangannya sementara berterima kasih kepada orang yang menyayanginya sepenuh hati sepanjang hidupnya pun tidak,...” jelas anakku.
Percayalah, tidak sulit membuat anak menghindari hal yang membahayakan baginya di masa depan selama kita tahu dan menjadi contoh bagi anak untuk menghadapi masalah dan mensikapinya bukan sekedar dogma retorik yang membuat anak bosan dan resistan terhadap ajaran yang orangtua berikan.

_KDC, Oktober 2016_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar