Memiliki anak sebagai anugerah
penerus generasi dari Sang Maha Pencipta tentu menghadirkan kesenangan dan
kebahagiaan tersendiri bagi setiap pasangan manusia di dunia. Bahkan keberadaan
anak selalu dikaitkan dengan keutuhan satu hierarki keluarga. Tak seorang pun
yang ingin dan berencana untuk memiliki keturunan yang kualitasnya tidak lebih
baik apalagi lebih buruk dari kualitas diri dan keluarganya.
Oleh
karena itu setiap anak memiliki ruang khusus dalam pemikiran keluarga hingga
suatu negara dalam kaitannya sebagai generasi penerus. Tak heran jika kemudian
anak dijadikan sandaran harapan akan masa depan yang lebih baik dalam
segimental, material maupun spiritual.
Perhatian
kepada anak sebagai generasi harapan di masa depan meyentuh sisi pendidikan anak.
Beragam cara dan motivasi mulai ditanam dan tumbuh kembangkan kepada anak
sedari bayi oleh orangtua, negara, bahkan kehidupan internasional terbukti
dengan didirikannya lembaga pendidikan khusus untuk anak mulai dari Pendidikan
Anak Usia Dini hingga badan internasional Unicef.
Tujuan
dari lembaga ini tidak lain dari kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam
menanamkan nilai baku dalam benak anak sebagai bekal menghadapi masa depan.
Uniknya ada perbedaan yang niscaya terjadi dalam nilai baku ini, setiap anak di
setiap generasi memiliki tantangan khas tersendiri di jamannya yang mungkin
tidak dialami oleh pendidiknya. Tentu saja ini menjadi tantangan serius
pendidik dalam mempersiapkan regenerasinya sebagai contoh pola pendidikan anak
generasi 90’an tentu saja berbeda dengan generasi millenial dan seterusnya.
Perbedaan
tantangan penerapan nilai baku pendidikan anak bersifat dinamis dan eskalatif.
Kadang tantangan ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dan sulit
diprediksi, sebagai contoh pola pendidikan anak generasi 80’an tidak berbeda
jauh dengan pola pendidikan anak generasi 90’an tetapi hal ini terasa jauh
perkembangannya dengan pola pendidikan anak generasi millenial.
Sangat
sulit bagi orangtua anak generasi 80-90’an untuk mengajak anaknya belajar atau
berkumpul bersama keluarga selepas petang menjalin komunikasi interkomunal
keluarga. Pada generasi millenial komunikasi interkomunal menjadi lebih mudah
dengan teknologi yang memungkinkan terjalinnya pertukaran komunikasi jarak
jauh, sehingga tidak sulit untuk mendapatkan informasi posisi anak disaat
dibutuhkan berkomunikasi. Maka tantangannya pun berubah, jika tantangan
generasi sebelumnya adalah mensikapi anak pulang malam maka di generasi
millenial tantangannya adalah mensikapi anak pulang pagi.
Padahal
jika dicermati tidak ada perubahan yang signifikan dalam nilai baku pendidikan
anak ini hanya pola pensikapan dan kesiapan pendidik saja. Contoh, jika
generasi 80-90’an sangat mudah mengevaluasi anak dikarenakan proses evaluasi
berlangsung verbal-visual, siapkah pendidik mengevaluasi anak yang menghindari
pola evaluasi verbal-visual dan memilih komunikasi tekstual. Anak sulit diajak
videocall karena keterbatasan biaya komunikasi, sementara evaluasi secara
verbal dan tekstual jelas sangat samar kecuali bagi beberapa orang yang sudah
terbiasa melakukan evaluasi secara verbal dan tekstual. Bagaimanapun bahasa
tubuh (gesture) dan intonasi ikut berperan sangat penting dalam mengevaluasi
perkembangan sikap anak.
Jika
anak berperan sangat penting dalam menentukan masa depan keluarga, lingkungan,
negara, hingga dunia. Maka keluarga tidak dapat dinafikan sebagai penanggung
jawab pertama dan utama dalam pendidikan anak. Tidak sedikit anak yang rajin,
pintar dan cerdas secara akademisi namun kadang kesulitan menjawab beberapa hal
penting berkaitan dengan komunikasi interpersonal seperti “Berapa sering anda
memeluk orangtua anda dan berapa lama durasinya?”. Sebut saja jika hal ini
menjadi sebuah pertanyaan dalam tes kenaikan jenjang karir anak, siapa yang
bisa disalahkan?. Tentu saja bukan kesalahan guru karena pertanyannya menunjuk
kepada orangtua bukan guru atau anggota keluarga lain juga orang sekitarnya.
Kebiasaan
untuk saling menghormati keberadaan dan hirarki, juga menghargai eksistensi
anggota keluarga terutama orangtua sangat berpengaruh kepada sikap simpati dan
empati anak sehingga anak menjadi lebih jujur dan adil dalam bersikap dan
bertanggung jawab. Jika anak sudah bersikap dan bertanggung jawab dengan adil
maka masa depannya tentu akan lebih cemerlang dan memperbaiki nilai keluarga
dan sosialnya.
Masalah
lain dalam penerapan pola pendidikan anak seperti ini adalah kehadiran orangtua
bagi anak. Apakah orangtua selalu hadir sebagai orang pertama yang memberikan
stimulus dalam memecahkan solusi yang dihadapi anak pada saat itu atau tidak?.
Menginjak
kepada dunia modern yang dihadapi generasi millenial kita seringkali dihadapkan
pada bentang jarak yang terlalu lebar dalam komunikasi dengan anak. Meskipun secara
teknologi sudah disiapkan kemudahan dalam menjalin informasi namun harus
disadari bahwasanya terkadang kita sendiri tidak memiliki kesiapan dan
keterbatasan dalam menggunakan teknologi tersebut secara maksimal terutama
dalam hal pembiayaan, keterbukaan pihak yang menjalin komunikasi dan pemahaman
inti komunikasi sehingga sering terjadi gagal paham dalam komunikasi.
Disisi
lain ada interaksi yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi seperti penggunaan
indera dalam komunikasi. Pelukan orangtua kepada anak dalam banyak penelitian
disebutkan mampu meredam konflik bagi anak. Bahkan ciuman di kening anak
memberikan stimulus untuk anak merasa lebih percaya diri dan yakin memiliki
dukungan penuh dari orangtuanya.
Menyempatkan
diri untuk bersama-sama belajar, bercengkerama, dan berfikir menemukan solusi
diantara anggota keluarga hingga saat ini sangat diyakini sebagai pola
pendidikan anak yang paling efektif dan efisien dari masa ke masa meskipun
setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Menghidupkan kembali ruang
keluarga tempat setiap anggota keluarga kembali dari setiap aktivitasnya
sebelum istirahat di malam hari bukan hal yang sulit dikerjakan. Menyempatkan makan
malam bersama, dialog mencari solusi masing-masing anggota keluarga dalam forum
ruang keluarga membuat anak menyadari kesulitan yang dialami orangtuanya
demikian juga orangtua menjadi lebih mengenali eksistensi anak dan tantangan
yang dia hadapi saat ini dan dimasa depan tanpa harus mendikte atau memaksakan
solusi yang sudah tidak relevan bagi anak.
Sejenak
aku teringat bagaimana Namie anak gadisku ketika ditanya mengapa mengakhiri
hubungan dengan pacarnya menjelang valentine day tahun lalu, “Dia tidak pernah
menghadiahi orangtuanya bahkan seikat bunga pun setiap tahunnya, bagaimana dia
bisa memperlakukan pasangannya sementara berterima kasih kepada orang yang
menyayanginya sepenuh hati sepanjang hidupnya pun tidak,...” jelas anakku.
Percayalah,
tidak sulit membuat anak menghindari hal yang membahayakan baginya di masa
depan selama kita tahu dan menjadi contoh bagi anak untuk menghadapi masalah
dan mensikapinya bukan sekedar dogma retorik yang membuat anak bosan dan
resistan terhadap ajaran yang orangtua berikan.
_KDC,
Oktober 2016_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar