21 Juli saat itu adalah hari Sabtu yang cerah. Jalanan lengang karena hari itu ada di Bulan Ramadhan, biasanya orang keluar rumah di sore hari untuk belanja menu berbuka atau sekedar menanti saat beduk maghrib tiba.
Sabtu itu hari ketiga dari 3 hari Aku melalui liburan bersama dengan Mbak. Liburan bersama pertama yang tidak direncanakan, kami mengobrolkan hal ini empat hari sebelum kami berangkat. Dua hari sebelumnya kami menyusuri Purwakarta, masuk ke pelosok pedesaan Wanayasa, nongkrong di Situ Buleud hingga bergabung dengan atraksi Freestyle BMX di halaman Stasiun Purwakarta sambil ngabuburit. Dan esoknya Aku membawa Mbak ke undangan salah satu kolega yang membuka resort baru di Bandung Utara, seharian disana disuguhi romantisme hutan pinus di kaki gunung Burangrang.
Mbak dan Aku berasal dari dua kota berbeda berpaut ratusan kilometer jaraknya. Kesepakatannya waktu itu adalah Mbak yang mengunjungi kota asalku dan aku menjadi guide. Lain waktu Aku melakukan hal yang sebaliknya. Kebetulan pick up point di Jakarta jadi Aku membawa Mbak mampir sebentar di Purwakarta dalam perjalanan santai.
Uniknya aku dan Mbak sama-sama lupa apa yang kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 21 Juli tersebut selepas keluar dari tempat kami menginap di Antapani. Entah saking asyiknya perjalanan kami atau ada satu hal yang membuat semuanya gugur dalam kenangan. Terakhir aku menanyakan hal ini beberapa menit yang lalu pun aku dan Mbak sama-sama lupa, serius beneran lupa kecuali satu hal, Blue Holland Rose.
Kami menunda makan malam dengan tujuan menunggu tempat makan mulai kosong sehingga kami bisa menikmati malam minggu berdua saja. Tempat makan yang menjadi target adalah tempat dinner romantis di Bukit Pakar. Jam 7 malam kami masih menyusuri Jalan Dago dan di perempatan yang dikenal sebagai Simpang Dago itu mataku tertuju kepada seorang ibu bertubuh gempal yang mengenakan jilbab sederhana sedang membereskan dagangannya di trotoar jalan.
Refleks nakalku tetiba datang dan aku langsung turun dari mobil meninggalkan Mbak dan pengendara lain mengular di belakangku. Aku hampiri ibu itu dan membeli bunga Blue Holland Rose yang setauku memang jarang sekali didapat. Beruntung sekali bunga itu ada diantara jajaran bunga yang hendak dijajakan si ibu. aku membalas riuh klakson dengan mengacungkan bunga di tangan dan mengisyaratkan ada orang istimewa di dalam mobil yang sedang menunggu bunga untuk kuberikan. Seketika klakson pun berhenti seolah memaklumi aku.
Entah apa yang ada dalam pikiran Mbak saat itu aku tidak tau, hanya saja aku melihat Mbak bingung antara hendak marah dan senang. Dan itu adalah penanda aku berhasil membuat Mbak terlibat dengan salah satu keisenganku yang menyenangkan seperti yang sudah sering aku ceritakan sebelumnya. Mbak sma sekali tidak menduga dengan apa yang aku lakukan saat itu, membuat kemacetan di jalan utama hanya untuk membelikan dia serangkaian bunga.
Bahkan hingga perjalanan menuju tempat dinner di Bukit Pakar masih aja Mbak salah tingkah. Seolah masih saja gak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami. Mbak yang sebelumnya sudah sering melakukan komunikasi denganku mendadak kembali canggung seolah kembali ke masa perkenalan.
Jika sebelumnya Mbak mungkin pernah mengalami banyak hal romantis dengan siapapun itu, maka saat itu dia heran dengan sikapku yang memberikan kepadanya serangkai bunga dengan sikap yang anarkis dan sama sekali tidak romantis. Pun dengan sikap aku yang super cuek gak seperti lelaki lain yang menyerahkan bunga sambil berlutut disertai banjiran kata pujian.
Hingga saat kami berdua duduk di meja yang ditata sedemikian rupa dengan hiasan lilin nan romantis pun aku sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seorang yang siap menerkam Mbak dengan pertanyaan pun pernyataan romantis ala anak manusia yang dihinggapi kasmaran. Bahkan aku mendubbing percakapan dua orang pengunjung yang mengisi meja yang gak jauh dari tempatku dan membuat Mbak tertawa ngakak.
Waktu bergerak tak terasa, jam menunjukkan pukul 11 malam dan kami segera kembali ke penginapan. Gak ada sama sekali ucapan kasmaran terlontar dari mulutku. Aku benar-benar membuat Mbak super bingung dengan semua kelakuanku. Meninggalkan tanya apakah Aku melakukan semua itu untuk mencuri hatinya atau hanya insiden biasa saja.
Liburan sudah selesai, kami kembali ke Jakarta dan tibalah saatnya berpisah. Tidak ada tanda-tanda aku akan mengucapkan pernyataan menjalin hubungan lebih serius. Mbak makin bimbang dengan kelakuanku terutama soal Blue Holland Rose yang kuberikan malam itu.
Dua minggu setelah kejadian bunga Blue Holland Rose di Dago, Mbak mengabariku bahwa bunganya layu dan dia ingin aku menemaninya kembali ke Bandung untuk membeli lagi. Aku pura-pura bingung dan bersedia, padahal senang sekali bisa bertemu lagi dengan Mbak seminggu kemudian.
Tepat tanggal 17 Agustus di Kranggan, Mbak menanyakan maksud dari bunga yang aku berikan. Aku baru tau bahwa seikat bunga bisa membuat seorang Mbak yang kukenal sebagai petarung tangguh luluh lantak. Dan saat itu kami berdua sepakat untuk merawat bunga yang lebih tahan lama dan setidaknya tidak usah dicari lagi ke Bandung untuk mendapatkannya. Seikat bunga bernama cinta,...
Entah sampai kapan bunga itu akan bertahan, hanya semoga yang bisa membuatnya terus mekar dan mewangi.
Mbak dan Aku berasal dari dua kota berbeda berpaut ratusan kilometer jaraknya. Kesepakatannya waktu itu adalah Mbak yang mengunjungi kota asalku dan aku menjadi guide. Lain waktu Aku melakukan hal yang sebaliknya. Kebetulan pick up point di Jakarta jadi Aku membawa Mbak mampir sebentar di Purwakarta dalam perjalanan santai.
Uniknya aku dan Mbak sama-sama lupa apa yang kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 21 Juli tersebut selepas keluar dari tempat kami menginap di Antapani. Entah saking asyiknya perjalanan kami atau ada satu hal yang membuat semuanya gugur dalam kenangan. Terakhir aku menanyakan hal ini beberapa menit yang lalu pun aku dan Mbak sama-sama lupa, serius beneran lupa kecuali satu hal, Blue Holland Rose.
Kami menunda makan malam dengan tujuan menunggu tempat makan mulai kosong sehingga kami bisa menikmati malam minggu berdua saja. Tempat makan yang menjadi target adalah tempat dinner romantis di Bukit Pakar. Jam 7 malam kami masih menyusuri Jalan Dago dan di perempatan yang dikenal sebagai Simpang Dago itu mataku tertuju kepada seorang ibu bertubuh gempal yang mengenakan jilbab sederhana sedang membereskan dagangannya di trotoar jalan.
Refleks nakalku tetiba datang dan aku langsung turun dari mobil meninggalkan Mbak dan pengendara lain mengular di belakangku. Aku hampiri ibu itu dan membeli bunga Blue Holland Rose yang setauku memang jarang sekali didapat. Beruntung sekali bunga itu ada diantara jajaran bunga yang hendak dijajakan si ibu. aku membalas riuh klakson dengan mengacungkan bunga di tangan dan mengisyaratkan ada orang istimewa di dalam mobil yang sedang menunggu bunga untuk kuberikan. Seketika klakson pun berhenti seolah memaklumi aku.
Entah apa yang ada dalam pikiran Mbak saat itu aku tidak tau, hanya saja aku melihat Mbak bingung antara hendak marah dan senang. Dan itu adalah penanda aku berhasil membuat Mbak terlibat dengan salah satu keisenganku yang menyenangkan seperti yang sudah sering aku ceritakan sebelumnya. Mbak sma sekali tidak menduga dengan apa yang aku lakukan saat itu, membuat kemacetan di jalan utama hanya untuk membelikan dia serangkaian bunga.
Bahkan hingga perjalanan menuju tempat dinner di Bukit Pakar masih aja Mbak salah tingkah. Seolah masih saja gak percaya dengan kejadian yang baru saja dia alami. Mbak yang sebelumnya sudah sering melakukan komunikasi denganku mendadak kembali canggung seolah kembali ke masa perkenalan.
Jika sebelumnya Mbak mungkin pernah mengalami banyak hal romantis dengan siapapun itu, maka saat itu dia heran dengan sikapku yang memberikan kepadanya serangkai bunga dengan sikap yang anarkis dan sama sekali tidak romantis. Pun dengan sikap aku yang super cuek gak seperti lelaki lain yang menyerahkan bunga sambil berlutut disertai banjiran kata pujian.
Hingga saat kami berdua duduk di meja yang ditata sedemikian rupa dengan hiasan lilin nan romantis pun aku sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seorang yang siap menerkam Mbak dengan pertanyaan pun pernyataan romantis ala anak manusia yang dihinggapi kasmaran. Bahkan aku mendubbing percakapan dua orang pengunjung yang mengisi meja yang gak jauh dari tempatku dan membuat Mbak tertawa ngakak.
Waktu bergerak tak terasa, jam menunjukkan pukul 11 malam dan kami segera kembali ke penginapan. Gak ada sama sekali ucapan kasmaran terlontar dari mulutku. Aku benar-benar membuat Mbak super bingung dengan semua kelakuanku. Meninggalkan tanya apakah Aku melakukan semua itu untuk mencuri hatinya atau hanya insiden biasa saja.
Liburan sudah selesai, kami kembali ke Jakarta dan tibalah saatnya berpisah. Tidak ada tanda-tanda aku akan mengucapkan pernyataan menjalin hubungan lebih serius. Mbak makin bimbang dengan kelakuanku terutama soal Blue Holland Rose yang kuberikan malam itu.
Dua minggu setelah kejadian bunga Blue Holland Rose di Dago, Mbak mengabariku bahwa bunganya layu dan dia ingin aku menemaninya kembali ke Bandung untuk membeli lagi. Aku pura-pura bingung dan bersedia, padahal senang sekali bisa bertemu lagi dengan Mbak seminggu kemudian.
Tepat tanggal 17 Agustus di Kranggan, Mbak menanyakan maksud dari bunga yang aku berikan. Aku baru tau bahwa seikat bunga bisa membuat seorang Mbak yang kukenal sebagai petarung tangguh luluh lantak. Dan saat itu kami berdua sepakat untuk merawat bunga yang lebih tahan lama dan setidaknya tidak usah dicari lagi ke Bandung untuk mendapatkannya. Seikat bunga bernama cinta,...
Entah sampai kapan bunga itu akan bertahan, hanya semoga yang bisa membuatnya terus mekar dan mewangi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar